Produksi Menurun! Yuk, Terus Dukung Pengrajin Batik Indonesia di Tengah Dampak Situasi COVID-19

sumber gambar : Batik Tulen

Tak cuma bidang kesehatan, COVID-19 telah memukul keras berbagai sektor industri. Termasuk, industri rumahan batik tanah air. Para pengrajin batik yang terdampak situasi pandemi, tidak mampu memenuhi target penjualan. Selain order dan produksi yang menurun, pengrajin batik juga kesulitan dari segi pemasaran agar bisa mempertahankan usaha batik.

Kebanyakan pengrajin batik saat ini lebih menggiatkan pemasaran secara virtual atau online melalui website, media sosial, maupun marketplace. Menurut Dr. H. Komarudin Kudiya, Ketua Asosiasi Pengusaha dan Pengrajin Batik Indonesia, pengrajin batik yang terdampak situasi pandemi mulai beralih ke digital agar lebih mudah menjangkau konsumen.

Tak cuma itu, pengrajin batik juga mengalami hantaman sejak April 2020, dan harus melakukan efisiensi biaya besar-besaran. Pengrajin batik rumahan di berbagai wilayah, seperti Pekalongan, Jawa Tengah juga mengaku banyak yang produksinya menurun karena sepi permintaan.

UMKM dan Industri Batik Rumahan Paling Terdampak Wabah Virus Corona

Dikatakan oleh Dr. Tumbu Ramelan, aktivis Yayasan Batik Indonesia, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah merupakan industri yang dapat dikatakan paling terdampak wabah virus corona.

Bahkan, pengrajin batik mengakui adanya penurunan omzet penjualan yang signifikan antara 30% hingga 50%. Penurunan omzet ini tergolong wajar, mengingat hampir seluruh sektor terdampak virus corona. Permintaan pasar yang relatif berkurang, cenderung diakibatkan berlakunya PSBB atau Pembatasan Sosial Berskala Besar. Jadi, masyarakat lebih memilih berada di dalam rumah ketimbang keluar rumah.

Meskipun permintaan sepi dan produksi menurun, namun para pengrajin batik tak patah semangat. Tak kurang dari sekitar 200.000 pembuat batik di Indonesia selama pandemi COVID-19 menerapkan pemasaran digital atau digital marketing untuk menjangkau konsumen. Kebanyakan order batik kini datang dari jalur online atau internet.

Ini berarti, selama masa pandemi, teknologi informasi menjadi cara andalan pengrajin batik memasarkan produk batiknya ke masyarakat luas. Meski mungkin tidak sebanyak order sebelumnya, namun digital marketing menjadi hal yang patut disyukuri.

Pemasaran Batik via Online Bersinergi Dengan Budaya Lokal

Teknologi informasi saat ini bisa mendorong produk kerajinan batik tetap mudah dijangkau konsumen secara luas. Tujuannya agar industri batik berbasis budaya lokal tetap eksis di negeri sendiri.

Melalui pemanfaatan teknologi, harapannya industri batik dapat berkontribusi besar untuk memulihkan ekonomi yang terdampak COVID-19. Sebab, pada tahun 2019, produk batik meraih perolehan devisa negara yang cukup tinggi. Yaitu sekitar US$ 17,99 juta. Sedangkan, sekitar Januari-Juli 2020, nilai ekspor batik meningkat US$ 21,54 juta. Dengan pasar utama negara Amerika Serikat, Jepang, serta negara-negara Eropa.

Belanja Batik Otentik khas Indonesia, BatikTulen.com

Butuh rekomendasi batik otentik khas Indonesia yang berkualitas premium dan elegan? Yuk, kunjungi gallerybatiktulen.com sekarang. Dapatkan aneka motif kain batik terbaik dengan proses pembayaran yang cepat dan praktis. Klik BatikTulen.com sekarang dan miliki kain batik idaman anda.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Need Help? Chat with us